1. /

Gula Lontar: Alternatif Pemanis Alami yang Punya Banyak Sisi Baik

Pemanis alami gula lontar dalam bentuk batangan dan bubuk organik di mangkuk kayu

Editor: dr. Andrew Octovianus Wijaya, Danastry Intan

Membatasi konsumsi gula pasir murni (refined sugar) kini menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Pasalnya, asupan gula rafinasi berlebih berkaitan erat dengan peningkatan risiko resistensi insulin, obesitas, dan diabetes mellitus.

Sebagai solusinya, banyak praktisi kesehatan mulai merekomendasikan pemanis alami alternatif yang lebih ramah bagi metabolisme tubuh—salah satunya adalah Gula Lontar. Berasal dari nira pohon lontar yang dipanen secara tradisional di Indonesia, gula ini menawarkan beragam "sisi baik" yang tidak dimiliki oleh gula pasir biasa.

Mengapa Gula Lontar Lebih Baik Bagi Tubuh?

Gula lontar memiliki keunggulan fisiologis yang menjadikannya alternatif pemanis yang lebih seimbang:

  • Indeks Glikemik (IG) Rendah: Mengandalkan nilai IG di kisaran 48–54, gula lontar diserap secara perlahan oleh usus halus. Hal ini mencegah lonjakan gula darah mendadak (blood sugar spike) sekaligus menghindari efek lemas mendadak (sugar crash).
  • Kaya Mikronutrien Penting: Karena diolah secara minimal (unrefined) tanpa proses pemurnian kimiawi, gula lontar masih mempertahankan mineral alami seperti magnesium, kalium, zat besi, dan zinc.
  • Mengandung Serat Prebiotik (Inulin): Kehadiran serat inulin tidak hanya membantu memperlambat penyerapan glukosa, tetapi juga menutrisi bakteri baik di dalam saluran pencernaan.
  • Cita Rasa Karamel Alami: Memiliki rasa manis lembut dengan sentuhan aroma karamel khas yang lezat tanpa memerlukan penambah rasa sintetis.
    Catatan Medis (Tips Kontrol Porsi):
    Pemanis ber-IG rendah tetap menyumbang kalori dan karbohidrat (370kkal/100g). Konsumsi harian tetap perlu dibatasi (maksimal 10% dari total kebutuhan kalori harian atau sekitar 2–3 sendok makan). Bagi penderita diabetes, asupan gula lontar tetap harus diperhitungkan dalam rencana diet harian.
*Disclaimer: Informasi dalam artikel ini ditujukan untuk edukasi kesehatan berdasarkan literatur ilmiah dan tidak menggantikan nasihat, diagnosis, atau perawatan medis dari dokter maupun ahli gizi profesional.

Source:

  1. Palmyrah palm (Borassus flabellifer) non-centrifugal sugar - Current production practices as a natural sugar and a promising functional food/additive, Rayappa M.K., (2023), https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666154323003368
  2. Palm sap sugar an unconventional source of sugar exploration for bioactive compounds and its role on functional food development, Sarkar T., et al. (2023), https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10073893/
Bagikan :
Krash and Steady